Inhil-Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) menjadi sorotan setelah muncul informasi yang tak sedap mengenai dugaan adanya selisih harga (mark-up) pada sejumlah item kegiatan penanaman mangrove tahun 2025.
Berdasarkan keterangan seorang sumber yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan, salah satu item yang dipersoalkan adalah pengadaan bambu untuk pagar lokasi pembibitan di Desa Kuala Selat, Kabupaten Indragiri Hilir.
Menurut sumber tersebut, harga bambu dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) disebut sebesar Rp15.000 per batang. Namun, berdasarkan informasi yang diperolehnya, harga bambu yang sampai di Desa Kuala Selat berkisar antara Rp8.000 hingga Rp10.000 per batang.
Sumber tersebut juga menyampaikan bahwa apabila kebutuhan mencapai sekitar 10.000 batang, maka selisih harga tersebut dinilai cukup signifikan.
Selain itu, sumber menyebut pembelian bambu dilakukan oleh kepala desa, sedangkan kelompok tani mengikuti arahan yang diberikan. Keterangan tersebut merupakan informasi dari sumber dan media ini masih berupaya memperoleh data pendukung dari pihak-pihak terkait.
Selain itu, dugaan selisih harga pada pengadaan bibit mangrove. Menurutnya, harga satuan bibit dalam program sebesar Rp 2.100 per batang, sedangkan harga pembelian di lapangan disebut berkisar antara Rp 1.500 hingga Rp 1.600 per batang.
Media ini memperoleh informasi bahwa pada tahun 2025 program penanaman mangrove dalam skala besar dilaksanakan di Desa Kuala Selat, Kecamatan Kateman dan Desa Tanjung Lajau, Kecamatan Kuala Indragiri. Informasi yang diterima menyebut jumlah bibit yang ditanam di masing-masing desa mencapai sekitar satu juta batang.
Kepala Desa Tanjung Lajau, Syarkawi, melalui WhatsApp pada 1 Agustus 2026. Ia menjawab mengatakan, “maaf aku tidak tau berapa jumlahnya karena yang ngerjakan kelompok didampingi dengan pendamping,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Kuala Selat, Nurjaya, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp pada 31 Juli 2026 mengakui desanya menanam ,1 jutaan bibit mangrove. Ia menyarankan agar media meminta penjelasan kepada Koordinator Lapangan M4CR.
Sedangkan, Wahyu selaku korlap Inhil dari program M4CR tidak memberikan penjelasan secara rinci. Malah melemparkan tanggungjawab pada pihak lain,nanti saya kasih nomor. Karena terkait kegiatan banyak polanya. Penanaman ada bibit, bambu, hidrologi, transportasi, katanya.
Lebih jauh dikatakannya, setiap lahan berbeda pola tanam tergantung kondisi.Ada rumpun berjarak, insentif, penganiayaan. Saya sampai saat ini tak hapal berapa dana per kelompok.
Kami kepala desa, kepolisian, kejaksaan hanya menyaksikan saat SPK antara kelompok dengan yang punya program. Takut salah kalau saya menjelaskan. Kalau dengan korlap, dapat data yang paling tepat,” tambahnya.
Terkait dengan jumlah 1 juta bibit mangrove yang sudah dilakukan penanaman di Desa Kuala Selat, besaran dana yang diterima oleh masing-masing kelompok tani tidak semata-mata dihitung berdasarkan jumlah bibit. Nilai dana disesuaikan dengan RUKK/RAB kegiatan yang telah disusun, diverifikasi, dan disetujui sesuai ketentuan program.
Ia juga menyampaikan bahwa di Desa Kuala Selat terdapat sembilan kelompok pelaksana kegiatan.Terkait harga, Wahyu menjelaskan.Harga bibit adalah Rp2.100 per bibit. Harga bambu adalah Rp17.000 per batang.Tentunya bibit dan bambu tersebut harus sesuai dengan spesifikasi dan ketentuan yang sudah tertuang dalam kontrak swakelola.
Saat diminta data mengenai anggaran dana yang disalurkan kepada kelompok tani, Wahyu meminta agar permintaan tersebut diajukan secara resmi.
Untuk data total anggaran yang dikucurkan ke kelompok tani, silahkan bapak bersurat langsung ke PMO Manager M4CR Kementerian Kehutanan RI dan ditembuskan ke PPIU Manager M4CR Provinsi Riau, jelasnya.
Manajer M4CR Provinsi Riau M.Arif Fahrurozi selaku Manajer M4CR Provinsi Riau pada 1 Agustus 2026, melalui WhatsApp, hanyq mempersingkat, “maaf saya sedang di bandara jika ingin konfirmasi data silahkan bersurat resmi ya mas. Dari media apa dan menyampaikan surat ditujukan kepada PMO Manager M4CR Kementerian Kehutanan RI,” jelasnya.
Ia menambahkan,untuk info lebih lanjut bisa hubungi koordinator lapangan yang di Inhil.
sumber.busurberita.id.

