Nisfatul Izzah: Dosen Prodi Akuntansi Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta
Sistem pendidikan ekonomi akuntansi yang saat ini berkembang di Indonesia telah banyak yang jauh dari realitas masyarakat Indonesia karena banyak sistem pendidikannya yang lebih dominan dengan pemikiran adopsi langsung dari negara barat daripada kesesuaian dengan kondisi masyarakat di Indonesia. Disisi lain dewasa ini peran profesi ekonomi akuntansi pada era revolusi industri 4.0 dan tantangan society 5.0 mengalami banyak halangan karena digantikan oleh kepandaian buatan manusia atau Artificial intelligence (AI).
Lalu, masih kah pembelajaran berbasis budaya masih diperlukan di era gempuran AI? Dewasa ini banyak ahli menyarankan untuk memasukkan nilai-nilai keagamaan dan nilai-nilai leluhur budaya, serta kearifan lokal (local wisdom) supaya dapat membantu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki keterampilan teknis yang baik, tetapi juga memiliki karakter dan kepribadian yang baik.
Pola pikir dan pola tingkah bahkan dapat digantikan oleh AI, sehingga sangat penting untuk dikendalikan dengan nilai-nilai luhur budaya sebagai pedoman hidup bagi manusia di era kecerdasan buatan yang serbah cepat dan canggih yang kadang sulit membedahkan mana kebenaran nyata dan hanya kebenaran maya belaka. Nilai adiluhung tersebut untuk mengambil keputusan yang profesional, efektif dan efisien, namun tetap dengan kaidah dan normah-norma sesuai dengan jati diri hati nurani manusia.
Kearifan lokal sebagai sebuah sistem tatanan kehidupan sosial, politik, budaya, ekonomi, dan lingkungan merupakan aktivitas sekelompok masyarakat yang didasari oleh pandangan hidup, ilmu pengetahuan, dan strategi kehidupan untuk menjawab berbagai masalah yang dihadapinya. Misalnya, dengan memasukkan nilai-nilai adiluhung budaya Jawa yang berbunyi “Gusti ora sare” (Tuhan tidak tidur) dalam materi pembelajaran ekonomi akuntansi supaya, stiap saat mahasiswa sebagai calon pelaku bisnis selalu memulai aktivitas bisnisnya dengan mengingat Tuhan. Tentu hal ini menjadi salah satu modal dasar pembentukan karakter dalam bidang ekonomi akuntansi supaya mereka tidak melakukan tindakan melanggar norma-norma, karena sadar semua aktivitasnya diawasi tuhan yang maha mengetahui.
Begitu pula dengan etos berbisnis, orang Jawa yang selama ini terkenal dengan prinsip-prinsip leluhurnya yang pantang menyerah dalam mencari rizki untuk mengingat peribahasa orang jawa “manuk esuk-esuk metu sak jerone luwe, mulih sore iso dadi wareg” yang artinya burung yang keluar di pagi hari keluar dalam keadaan lapar dan kenyang di sore hari. Petuah Jawa tersebut dikolaborasikan dengan nasehat-nasehat spiritual yang senada, misalnya dari nilai-nilai spiritual yang ada di ajaran agama Islam seperti hadist Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, yang berbunyi: “Kalau kalian benar- benar bertawakal kepada Allah, niscaya Allah member rizki kepada kalian, sebagaimana burung-burung diberi rizki; pagi-pagi mereka meninggalkan sarang dalam keadaan lapar, dan sore hari pulang dalam keadaan kenyang”. Dua ungkapan penuh makna dari budaya Jawa dan Spiritual Islam yang sama-sama mengajarkan kepada seseorang untuk yakin rizki berupa uang dan kebutuhan primer makanan serta lainnya dapat tercukupi dengan berusaha dan bekerja keras, sehingga manusia boleh bersaing dg AI, namun tetap yakin Tuhan yang maha pemberi rizki.
Kearifan budaya selain peribahasa Jawa secara umum juga dapat berupa, tari, pakaian, adat, dan makanan, serta lainnya yang dapat dijadikan bahan pembelajaran terkait ekonomi akuntansi. Dalam kontek penulisan ini penulis memberikan contoh peribahasa jawa yang sangat sering dipakai di masyarakat. Hal ini karena penulis dibesarkan dari lingkungan budaya tersebut berada.
Beberapa peribahasa jawa yang memiliki nilai luhur sangat diperlukan dalam mendidik pelajar dan Mahasiswa untuk mengerti dan mencintai peribahasa yang mengandung makna adiluhung dalam kontek ekonomi akuntansi misalnya:
Pertama, “Becik ketitik olo ketoro” peribahasa Jawa yang memiliki makna bahwa perbuatan baik pada akhirnya akan terlihat, dan perbuatan buruk pada akhirnya juga akan terungkap. Peribahasa ini mengajarkan pentingnya menjaga perilaku dan bertindak baik, karena baik buruk suatu tindakan pasti akan diketahui pada waktunya. Dalam menjalankan roda ekonomi dan akuntansi bisnis diperlukan kejujuran dalam etika bisnis dan profesional, misalnya sebagai seorang auditor (pemeriksa keuangan) diatur sebuah etika profesional yang dikeluarkan oleh organisasi profesi akuntan, yaitu Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yang wajib ditaati. Dampak ketaatan serta kejujuran ini akan senantiasa dijaga dan dipraktikkan dalam perilaku kehidupan sehari-hari meskipun itu sudah di luar tugas profesionalnya dan meskipun AI sangat mungkin bisa diajak untuk bersengkongkol dalam kejatan, namun dasar falsafah hidup yang kuat akan menolong manusia selalu dalam jalan kebenaran.
Kedua, “Alon-alon asal kelakon” adalah sebuah pepatah Jawa yang secara harfiah berarti “pelan-pelan asal tercapai”. Pepatah ini menekankan pentingnya kesabaran dan ketelitian dalam melakukan sesuatu, dengan tujuan akhir yang pasti tercapai, meskipun dilakukan secara bertahap, karena hasil yang baik tidak selalu datang dengan cepat, namun konsisten akan memberikan hasil terbaik. Dunia ekonomi akuntansi yang serba canggi telah banyak dilakukan Atifial Intelengensi (AI) yang menuntut serba cepat dan taktis, namun ada hal yang tidak dapat digantikan AI misalnya pengambilan kebutuhan dan empati (welas asih) ketika melakukan pemeriksaan keuangan untuk memperoleh hasil yang wajar dengan kenyataan yang sesungguhnya.
Ketiga, “Ojo dumeh” yang berarti “jangan mentang-mentang”. Ungkapan ini mengandung makna bahwa seseorang tidak boleh sombong atau merasa lebih dari orang lain hanya karena memiliki kelebihan tertentu, seperti kekuasaan, kekayaan, atau jabatan. Sejatihnya semua kekayaan yang diperoleh dari kerasnya persaingan dunia dalam Islam hanya dinilai sebagai titipan dari Tuhan dan ada hak bagi sebagian orang yang lain (tidak rakus).
Keempat, “Memayu Hayuning Bawana” adalah filosofi Jawa yang mengajarkan pentingnya menjaga dan memperindah dunia, serta menciptakan keseimbangan dan keharmonisan dalam kehidupan. Orang-orang yang memahami falsafah ini akan menjadi manusia paham bahwa kehidupan manusia tidak lepas dari lingkungannya, tidak lepas dari yang mencipta jagad raya (tuhan yang maha pencipta). Keyakinan ini sebagai bentuk pertanggungjawabannya kepada sang pencipta. Demikian juga kepada mahasiswa ekonomi akuntansi calon manajer, auditor, maupun sepesial keuangan lainnya yang atasnya melekat tanggungjawab tidak hanya kepada stakeholder sebagai pengguna, tetapi juga ingat tanggungjawab kepada tuhannya dan wajib menjaga kelestarian alamnya.
Dalam kesempatan ini penulis sepakat untuk menjadikan semua pembelajaran ekonomi akuntansi dalam sebuah model pembelajaran berbasis religiusitas dan kearifan lokal falsafah jawa. Model pembelajaran dapat dimasukkan melalui teori 4-D yaitu, define, design, develop, dan disseminate yang dipopulerkan oleh Dorothy S. Semmel dan Melvyn I. Semmel pada 1974.
Akhirnya menambahkan detail model pembelajaran yang dimaksud dengan tahapan berikut ini: Pertama, Define sebagai tahap mendefiniskan, tujuan serta kendala pembelajaran melalui studi pendahuluan kepada perguruan tinggi, learner analysis untuk menganalisis karakteristik mahasiswa, task analysis untuk mengidentifikasi keterampilan mahasiswa, concept analysis untuk menganalisis konsep yang akan diajarkan, serta specifying instructional objectives untuk merumuskan tujuan dengan mengembangkan dari indikator. Kedua, Design sebagai tahap merancang prototip bahan ajar dengan cara; constructing criterion-referenced tests atau menyusun tes kriteria sebagai evaluasi dalam modul pembelajaran ekonomi akuntansi berbasis budaya, lalu media selection atau menyeleksi media dengan mengemas materi kedalam suatu modul, memilih dan menetapkan format untuk modul, serta initial design untuk membuat rancangan awal modul pembelajaran. Ketiga, Develop: Tahap ini untuk memodifikasi prototip modul menjadi versi final dengan cara penilaian instrumen dan divalidasi oleh ahli bahasa, kemudian diujicobakan kepada mahasiswa. Ke empat, disseminate atau penyebaran sebagai tahap akhir di mana modul pembelajaran yang telah dikembangkan diuji coba dan disebarluaskan untuk mengetahui efektivitasnya. Selamat mempraktikkan dan kembangkan sesuai dengan kebutuhan bidang kita masing-masing.

