Catatan: Marudut Golan Jurnalis Kabarinvestigasi.co.id Taput
Berbicara tentang air tidak akan ada putus-putusnya, mengalir terus tiada ujung, kalaupun aliran sampai ke titik akhir (bermuara ) ke danau atau laut, tetap juga namanya air, air danau atau air laut itu disebut.
Air yang aku oret disini bukan air danau atau air laut, tetapi air minum yang dikelola Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Mual Natio Tarutung Taput.
Ada sebanyak kurang lebih 3000 (kk) pelanggan tersebar di beberapa kecamatan. Biarlah yang aku tuangkan disini sebatas pelanggan di kecamatan Sipoholon, dan Kecamatan Tarutung.
Sebagai pelanggan atau konsumen tentu berharap distribusi air berjalan lancar, bukan sebatas itu yang utama kualitas air aman dikonsumsi.
Apakah distribusi air ke rumah pelanggan yang ada di dua kecamatan layak konsumsi atau tidak aku tak memastikan, tetapi sulit dipungkiri selalu ada saja muncul keluhan dari pelanggan tertentu.
“Yang airnya tidak jalan lah , yang kotor lah dan tidak layak dikonsumsi lah atau pipa yang bocor” adalah bentuk keluhan dari konsumen PDAM Mual Natio.
Pelanggan di Sipoholon dengan sumber air dari Simarsasar, keluhan paling mendasar adalah kala hujan turun kualitas air yang mengalir ke rumah pelanggan menjadi “litok” atau berlumpur.
Berbeda dilingkungan jalan MH Manullang Siualuompu-Tarutung ,aliran air boleh dikatakan lancar saja, kecuali kala ada pembersihan di intake Tangsi Tarutung untuk sementara distribusi air dihentikan untuk kemudian dibuka kembali.
Tetapi yang paling krusial, kualitas air dengan kondisi bersih (air bersih) tetapi tidak layak diminum . Dan untuk kebutuhan konsumsi pelanggan harus membeli air daur ulang.
Akibatnya , konsumen di wilayah MH Manullang harus mengeluarkan “ringgit sitio soara” selain membayar pemakaian air bersih PDAM Mual Natio harus juga membeli air minum. “Dua halo hona ma”.
Bagi aku, satu perusahaan yang menangani air untuk kebutuhan pelanggan tentu air yang produksi dan didistribusikan rumah konsumen atau pelanggan sudah pasti layak konsumsi.
Idem PDAM Mual Natio, tentu distribusi air telah layak konsumsi, tetapi faktanya pelanggan di kompleks jl MH Manullang termasuk aku, masih membeli air daur ulang untuk konsumsi.
Bahkan tadi siang ,( Rabu-red) kala aku dengan teman berbincang seputar air, justru pemilik kedai diseputaran tanggul, dimana kami seruput kopi , pun mengeluh yang kadang kala kualitas air minum ke rumah berobah warna dari jernih menjadi litok. “Kadang kala nya amang golan”, aku ibu tersebut.
Belum lagi kondisi alam disekitar sumber- sumber air sangat berpengaruh banyak dan perlu penanganan serius
Secuil “masalah” yang dituangkan diatas ,tentu bukan hal baru mendera pelanggan PDAM Mual Natio, belum lagi soal pembayaran rekening.
Aku tidak menutup mata tentang kondisi pipa khususnya di seputaran Tarutung yang mungkin sebagian masih pipa zaman baholak termakan usia dan sudah waktunya diganti total.
Tidak mudah memang mengganti secara keseluruhan pipa dimaksud ,tetapi akan sangat bisa kalau satu-satunya perusahaan air minum milik daerah ini memiliki cukup “ringgit sitio soara’.
Tetapi paling tidak, PDAM Mual Natio yang kini dibidani David PPH Hutabarat adalah meningkatkan jenis air bersih menjadi air minum , itu yang pertama dan utama ditangani, baru kemudian perobahan warna air yang menerpa pelanggan di Sipoholon boleh teratasi, sehingga kalaupun hujan turun ,air tetap layak konsumsi.
Belum lagi kondisi alam disekitar sumber- sumber air sangat berpengaruh banyak dan perlu penanganan serius
Dan satu hal yang membuat pelanggan “kecewa” selain kualitas air, adalah lonjakan besaran pembayaran yang tak terduga sehingga ada kesan asal dibuat buat,sementara kita menggunakan meteran.
Aku tidak oret kan disini, besaran lonjakan beruntun dalam tenggang waktu 3 bulan pembayaran. Pembayaran bulan kedua naik dari pembayaran bulan pertama kemudian naik lagi pembayaran bulan ketiga.
Artinya disini, jangan lagi muncul image seolah pelanggan itu ” di oto oto i”. Kalau tak mau bayar ya putus hubungan dengan nyamuk” (mudah-mudahan tidak).
“Langkah cepat untuk meningkatkan pelayanan air bersih'( layak minum-red) yang dialamatkan oleh Bupati JTP Hutabarat kepada David Hutabarat,(dalam gambar) bagi aku itu adalah mewakili suara pelanggan yang disampaikan pada moment pelantikan.
Kembali seperti kata pepatah “tidak segampang membalikkan telapak tangan”, Namun demikian, tentu selaku pelanggan tetap berharap ,buah dari “langkah cepat ” boleh sesegera dirasakan konsumen PDAM Mual Natio.
Bukankah Air menjadi sumber kehidupan dan pelanggan itu adalah raja?, itu saja

