Kabarinvestigasi.co.id. Satu pernyataan publik yang kurang tepat dapat menjadi bumerang bagi reputasi perusahaan. Riset Harvard Business Review menunjukkan bahwa miskomunikasi dapat menyebabkan penurunan nilai pasar perusahaan hingga miliaran rupiah hanya dalam hitungan jam. Fenomena ini dikenal sebagai cost of damage—yakni kerugian langsung maupun tidak langsung akibat informasi yang kabur (blur), salah ucap, atau keterlambatan dalam merespons publik.
Di tengah derasnya arus informasi dan ekspektasi transparansi, para corporate secretary dan eksekutif perusahaan kini menghadapi tantangan komunikasi yang jauh lebih kompleks.
Mereka tidak hanya dituntut untuk patuh terhadap regulasi, tetapi juga harus menjaga konsistensi narasi publik di bawah sorotan media dan perhatian investor.
Menurut M.N. Ikrar, praktisi komunikasi dan pendiri Bicara Itu Mudah, banyak perusahaan belum memiliki kesiapan menghadapi situasi darurat komunikasi. “Doorstop interview mendadak, pertanyaan sensitif dalam RUPS, atau sorotan media pasca-insiden sering kali membuat juru bicara kehilangan kendali. Padahal, momen singkat itu bisa menentukan tingkat kepercayaan pasar terhadap perusahaan,” jelasnya.
Ketidakjelasan Pernyataan Publik Bisa Fatal
Beberapa contoh info blur yang kerap menimbulkan spekulasi negatif di pasar antara lain:
● Pernyataan ambigu soal kinerja keuangan: “Kami berharap ada perbaikan dalam waktu dekat” → dinilai menutupi masalah riil.
● Kontradiksi antar pejabat: Satu direktur menyatakan tidak ada PHK, sementara yang lain mengumumkan efisiensi SDM.
● Respons lambat terhadap isu sensitif: Ketika isu pajak atau hukum mencuat, perusahaan tidak segera memberikan klarifikasi resmi.
● Klaim spekulatif tanpa dukungan data: Misalnya, menyatakan optimisme pertumbuhan tanpa menyertakan proyeksi dan landasan objektif.
● Bahasa bersayap dalam keputusan strategis: “Sedang menjajaki opsi strategis” tanpa memperjelas arah atau rencana, sehingga memicu ketidakpastian. Situasi-situasi tersebut bisa melemahkan persepsi pasar dan menyebabkan investor menarik dananya, terutama dalam iklim yang sensitif terhadap sinyal risiko.
Tips dari Praktisi: Menghindari “Info Blur”
Menurut M.N. Ikrar, ada tiga hal sederhana yang bisa dilakukan perusahaan agar narasi publik tetap terjaga: 1. Gunakan bahasa jelas & terukur. Hindari kata-kata normatif seperti “segera”, “dalam waktu dekat”, atau “masih dikaji” tanpa kerangka waktu. 2. Satu suara, satu pesan. Pastikan semua juru bicara perusahaan menyampaikan pernyataan konsisten untuk menghindari kontradiksi. 3. Latih eksekutif dengan simulasi nyata. Pengalaman menghadapi pertanyaan sulit dalam situasi latihan akan membentuk refleks dan kepercayaan diri saat menghadapi media.
Solusi: Simulasi Nyata untuk Kesiapan Nyata
Melihat fenomena ini, sejumlah praktisi komunikasi mulai menawarkan pendekatan baru berupa simulasi media dan war room untuk melatih eksekutif merespons pertanyaan media, investor, maupun publik dalam skenario nyata. Salah satunya adalah program Emiten Bicara yang diinisiasi PT Capitrust Sinergi Investama. Dengan metode simulasi intensif, peserta dilatih menghadapi skenario krisis secara langsung, dibimbing oleh praktisi berpengalaman seperti M.N. Ikrar yang telah mendampingi ratusan perusahaan, termasuk emiten di Bursa Efek Indonesia. Inisiatif seperti ini diharapkan dapat membantu perusahaan menjaga reputasi sekaligus membangun kredibilitas komunikasi di mata investor dan publik. (www.emitenbicara.com.)

