Reteh.kabarinvestigasi.co.id. Letkol Arh Wahid Mustofa, Dandim 0314/Inhil Bersama Ibu Ketua Persit dan rombongan, bawa 80 karung beras, 30 dus Indomie, 80 Kg gula, 80 Kg minyak makan memberikan bantuan korban kamis (7/5/206).
Bukan sekadar sembako. Tapi pelukan. Untuk 61 KK yang rumahnya dilalap api mengobati Duka.
“Pada hari Kamis tanggal 07 Mei 2026 sekira pukul 10.30 wib telah dilaksanakan Penyerahan bantuan berupa sembako kepada warga yang terdampak Kebakaran rumah di Kelurahan Pulau Kijang http://kec.Reteh http://kab.Inhil diwilayah Kodim 0314/Inhil.” Di tanah yang masih berbau hangus, Dandim berdiri di tengah warga. Tak ada podium. Tak ada jarak. Hanya ada mata yang sembab dan tangan yang saling menguatkan.
“Adapun Bantuan Berupa: Beras 5 Kg 80 karung, Indomie 30 Dus, Gula 80 Kg, Minyak Makan 80 Kg. Jumlah Penerima Bantuan: 61 KK.” Satu karung untuk satu keluarga. Satu dus mie untuk pengganjal lapar sementara. Satu kilo gula untuk manis yang sempat hilang. Satu kilo minyak untuk harapan yang kembali menyala di dapur darurat.
Turut hadir Kepala Beacukai Inhil Bpk Eko Budi S, Danramil 09/Kmg Kapten Arh Budi Sandoro, Pasi Intel Kodim 0314/Inhil Kapten Inf Agusturohim, Pasiter Kodim 0314/Inhil Kapten Arh Sumaryono, Dan Unit Kodim 0314/Inhil Lettu Inf Sugianto, Camat Reteh bapak Hasnor Rasidi http://S.Kep, Kapolsek Reteh yang mewakili Brigadir Riko S, Lurah P. Kijang Kadarrisman S.E, Babinsa Koramil 07/Rth Sertu Bendri, dan warga korban kebakaran. Semua datang. Karena duka Pulau Kijang adalah duka Inhil.
Letkol Arh Wahid Mustofa menyerahkan bantuan langsung ke tangan warga. Ia peluk bahu bapak yang rumahnya rata dengan tanah. Ia genggam tangan ibu yang masih trauma. “Kami dari Kodim 0314/Inhil turut berduka. Kebakaran ini musibah kita bersama. Bantuan sembako ini mungkin tak seberapa dibanding yang hilang. Tapi ini tanda kami hadir. TNI hadir bukan hanya saat perang. TNI hadir saat rakyat susah. Jangan merasa sendiri. Kita bangun lagi pelan-pelan. Rumah boleh hangus, tapi semangat jangan ikut hangus,” tegasnya.
Ibu Ketua Persit ikut membagikan gula dan minyak. Senyumnya menenangkan. Anak-anak korban kebakaran yang tadinya murung, mulai berani mendekat. Indomie 30 dus itu mungkin habis sepekan. Tapi kepedulian yang datang Kamis pagi itu akan diingat seumur hidup. Karena saat susah, yang datang membantu tak akan dilupa.
“Dari Tokoh Masyarakat mengucapkan terima kasih banyak atas Bantuan Pak Dandim, semoga apa yang diberikan dapat meringankan beban Saudara kita yang terdampak.” Ucapan itu tulus. Sebab beras 5 Kg hari ini artinya anak-anak bisa makan malam. Minyak 1 Kg artinya masih bisa menggoreng. Gula 1 Kg artinya teh hangat masih bisa tersaji di tenda pengungsian
Kegiatan penyerahan bantuan selesai pada pukul 11.30 wib dalam keadaan aman dan terkendali.” Satu jam yang penuh makna. Satu jam yang mengubah air mata jadi harapan. Di Pulau Kijang, Kamis siang itu, loreng tak ditakuti. Loreng dipeluk. Karena datang membawa beras. Bukan bara.
Dari Kecamatan Reteh, pesan itu sampai ke Tembilahan: Kodim 0314/Inhil hadir, 61 KK terbantu, duka dibagi beban diringankan. Dan selama Letkol Wahid Mustofa masih mau turun ke puing, masih mau peluk warga, maka Inhil tahu: mereka tak pernah sendiri saat musibah datang.(*

