Tananhmerah.kabarinvestigasi.Co.id. Kapal KM Yulia GT 28 pukat cumi dan ikan Karimun menjelajahi Pulau Laut Kabupaten Natuna, perbatasan Malaysia dan perbatasan laut cina selatan untuk menjaring cumi da ikan.
Salah seorang dari 10 orang ABK KM Yulia sebut saja namanya Aris bukan nama sebenarnya menceritakan sikon dan kondisi saat berada di KM Yulifa.
Menurut Aris asal Tanah Merah Kabupaten Inhil Provinsi Riau, kurangnya Pasilitas Awak Kapal, Selama tiga bulan di laut terhitung dari 16 juni S/d 31 Agustus 2025.
“Kami di gaji per orang perbulan Rp. 1.830.000 selama tiga bulan. Kegiatan kami dikapal selain pasang pukat cumi/Ikan, hasil tangkapan cumi dan ikan. kami diperintahkan oleh ACENG(Tekong) membongkar dan memidahkan ke kapal yang lain, dari hasil tangkapanya ikan sebanyak 400 kantong pelastik dan cumik 600 kantong pelastik”ujarnya menceritakan.
Pengemudi kapal ( tekong) Aceng dengan nada suaranya yang keras memberikan arahan dan memarahi kepada Awak Kapal.
Rokok kata Aris melanjutkan, dalam satu hari hanya 12 batang di kalikan tiga bulan, itu pun di potong bonos hasil tangkapan setelah pulang ke karimun.
Fasilitas yang didapatkan sangat minim, seperti air bersih yang tidak layak diminum, peralatan makan yang seadanya, dan tempat tidur yang beralaskan kardus bekas. Bahkan, kami hanya bisa mandi setiap 3 hari satu kali, atau satu minggu satu kali
Dan kami sebelum berangkat kelaut, tidak ada pemeriksaa kesehatan oleh pihak kesehatan rumah sakit karimun, ujarnya
KM Yulifa kata Aris menggunakan bahan bakar BBM sejenis solar, selama 3 bulan di laut, mecapai 28 tom.
Bagi awak kapal, yang lain itu tidak mengapa kekurangan peralatan di kapal, bagi saya itu luar biasa. Kami mau bikin air kopi mengunakan kaleng bekas,” Ujarnya (Arpan)

