Kuantan. Aktivitas operasional PT Sinergi Prima Indotama (SPI), perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan galian C (quarry) di Kabupaten Kuantan Singingi, menjadi sorotan setelah muncul dugaan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar subsidi untuk mendukung kegiatan produksinya.
Informasi tersebut mencuat berdasarkan keterangan sejumlah sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan. Mereka menduga terdapat pola tertentu dalam pemenuhan kebutuhan BBM operasional perusahaan.
Menindaklanjuti informasi yang diterima sebelumnya, tim wartawan melakukan investigasi lapangan pada Sabtu (6/6/2026) di sebuah lokasi yang diduga menjadi tempat penyimpanan BBM di wilayah Desa Logas. Dalam penelusuran tersebut, tim menemukan sejumlah tangki yang berisi BBM jenis solar dan mendokumentasikan temuan tersebut.
Saat berada di lokasi, tim wartawan sempat mewawancarai penjaga gudang. Menurut penjaga, BBM yang tersimpan di lokasi tersebut memiliki legalitas, namun dirinya tidak mengetahui secara rinci dokumen yang dimaksud.
“Kami hanya pekerja, Bang. Sebaiknya jumpai bos kami saja,” ujarnya singkat.
Atas temuan tersebut, redaksi kemudian melakukan konfirmasi kepada Kapolsek Singingi, AKP Azhari SH, melalui pesan WhatsApp dengan menyertakan sebagian dokumentasi yang diperoleh di lapangan.
Pesan tersebut direspons oleh Kapolsek pada Minggu (7/6/2026).
“Terima kasih informasinya ya, Bang,” tulis AKP Azhari.
Namun hingga berita ini diterbitkan pada Selasa malam (9/6/2026), belum diperoleh informasi lebih lanjut mengenai tindak lanjut ataupun perkembangan penanganan dari aparat penegak hukum.
Sejumlah warga setempat juga menyampaikan informasi yang perlu ditelusuri lebih lanjut terkait kepemilikan BBM yang ditemukan di lokasi tersebut. Meski demikian, informasi tersebut masih sebatas keterangan warga dan belum dapat diverifikasi secara independen.
Sementara itu, sumber lain menyebutkan bahwa perusahaan diduga hanya membeli BBM non-subsidi dalam jumlah terbatas sebagai bukti transaksi, sedangkan kebutuhan BBM operasional harian yang jauh lebih besar diduga dipenuhi melalui solar subsidi yang diperoleh dari para pelangsir.
“Pembelian BBM non-subsidi memang ada, tetapi hanya sesekali. Dugaan kami, itu dilakukan untuk menunjukkan seolah-olah seluruh operasional menggunakan BBM industri. Padahal kebutuhan operasional quarry setiap hari sangat besar. Informasinya, kebutuhan tersebut diduga dipenuhi melalui solar subsidi yang diperoleh dari pelangsir di SPBU,” ujar sumber kepada tim wartawan.
Menurut sumber tersebut, kebutuhan BBM yang cukup besar digunakan untuk menunjang operasional alat berat serta armada perusahaan di lokasi quarry.
Atas berbagai informasi yang berkembang tersebut, masyarakat berharap aparat penegak hukum dapat melakukan penyelidikan guna memastikan kebenaran dugaan yang beredar, termasuk menelusuri asal-usul BBM yang digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Sinergi Prima Indotama belum memberikan tanggapan resmi terkait dugaan yang disampaikan sejumlah sumber. Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada seluruh pihak yang disebut dalam pemberitaan ini sesuai ketentuan Undang-Undang Pers. “Sumber” inteljen jendral.
(Tim/Investigasi Nasional)

