Jakarta.kabarinvestigasi.co.id. PT Indosat Tbk. (ISAT) memperkenalkan 27 solusi supply chain berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dikelompokkan ke dalam enam area utama dalam Indonesia AI Day for Supply Chain. Keenam area tersebut meliputi Always-On Supply Chain Operations, Real-Time Operational Command, Unified Digital Experience, Sustainable Revenue Expansion, Secure & Trusted Critical Infrastructure, serta Predictive & Intelligent Decision Making. Rangkaian solusi ini mencakup berbagai use case, mulai dari konektivitas jaringan privat, telemetri IoT, manajemen armada, dan video analytics berbasis AI, hingga AI chatbot, platform omnichannel, layanan keamanan siber, advanced analytics, serta dashboard decision intelligence untuk level eksekutif.
Muhammad Buldansyah, Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, mengatakan supply chain saat ini tidak lagi bisa mengandalkan proses manual.
Aktivitas logistik semakin kompleks dan menuntut informasi yang cepat serta mudah dipahami. Pelaku industri juga perlu memantau pergerakan barang dan armada secara real-time agar operasional berjalan lebih rapi dan keputusan dapat diambil tepat waktu. “Melihat kebutuhan tersebut, Indosat mendorong pemanfaatan teknologi berbasis AI agar proses di bidang ini saling terhubung dan membantu pelaku industri mengelola operasional secara lebih terukur,” kata pria yang akrab disapa Dani tersebut di Jakarta pada Rabu (11/2/2026) seperti dilansir bisnis.com
Indosat mencatat, tolok ukur industri global menunjukkan adopsi digital dan AI di sektor supply chain dapat mendorong peningkatan pendapatan sebesar 15–30% melalui peningkatan engagement pelanggan dan strategi harga yang lebih tepat. Selain itu, efisiensi operasional berpotensi meningkat 30–40%, risiko pencurian dan fraud turun hingga 50%, serta waktu respons layanan pelanggan dapat dipercepat 40–50%. Dalam operasional armada, penerapan predictive maintenance berbasis AI bahkan mampu menurunkan unplanned downtime hingga 50% sekaligus memperpanjang usia kendaraan.
Sementara itu, lanjut Dany, otomatisasi gudang berbasis IoT dan AI dapat mempercepat proses fulfillment, menekan biaya operasional, dan meminimalkan keterlambatan pengiriman. Menurutnya angka-angka ini menegaskan AI bukan lagi sekadar konsep masa depan, melainkan tuas strategis untuk meningkatkan daya saing saat ini. Di sektor transportasi, solusi seperti Fleet Management, Fleet Vision, Vision AI, dan IoT Telemetry memungkinkan pemantauan pergerakan kendaraan, pemanfaatan aset, kinerja, dan aspek keselamatan secara real-time. Pada sektor distribusi dan logistik, Cold Chain Monitoring dan Asset Tracking dapat membantu menjaga kualitas dan integritas produk melalui visibilitas lokasi serta kondisi barang secara real-time. Pada level fasilitas, pendekatan Smart Facility, Energy Management, Connected AGV, dan Unified Command Center mendukung optimalisasi operasional, peningkatan efisiensi energi, percepatan alur kerja, serta keandalan operasional end-to-end. “Seluruh kapabilitas ini semakin diperkuat dengan platform pengalaman pelanggan berbasis AI, layanan keamanan siber, serta advanced analytics untuk mendorong pengambilan keputusan yang lebih cerdas dan pertumbuhan yang berkelanjutan,” kata Dany. Indosat juga menegaskan komitmennya untuk memberdayakan pelaku industri Indonesia agar mampu bertransformasi secara berkelanjutan, beroperasi lebih efisien, dan semakin kompetitif di tingkat regional maupun global. “Sejalan dengan tujuan besar Indosat untuk memberdayakan Indonesia, inisiatif ini diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi biaya dan operasional, tetapi juga memperkuat fondasi ekosistem logistik nasional yang lebih tangguh, terhubung, dan siap menghadapi masa depan di era ekonomi digital,” kata Dany. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, hingga 2024 terdapat sekitar 16.080 perusahaan pergudangan dan ekspedisi kurir yang beroperasi di Indonesia. Skala dan kompleksitas industri yang terus bertumbuh ini menuntut sistem operasional yang lebih terintegrasi, adaptif, dan berbasis data.(*)

