Kabarinvestigasi.co.id. Universitas Gajah Mada (UGM) menggandeng NVIDIA dan Indosat Ooredoo Hutchison untuk mengembangkan riset teknologi akal imitasi (AI). Kolaborasi ini difokuskan pada penguatan infrastruktur, integrasi riset akademik dengan kebutuhan industri, serta pengembangan ekosistem AI nasional.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari program UGM AI Center of Excellence yang berfokus pada pengembangan AI di bidang akademik, riset, dan pemberdayaan komunitas.
Kepala Biro Transformasi Digital UGM Mardhani Riasetiawan mengatakan kolaborasi ini diarahkan untuk membangun infrastruktur AI yang terbuka, mudah diakses dan berkelanjutan, sekaligus mendukung agenda pengembangan AI nasional. “Inisiatif ini menjadi langkah penting untuk pengembangan AI yang lebih luas,” kata Mardhani dalam keterangan tertulis, Kamis, 12 Februari 2026.
Mardhani mengatakan UGM menawarkan sejumlah bidang riset unggulan, antara lain AI untuk medis, energi dan pemanfaatan sumber daya, serta smart technology. Dalam sektor kesehatan, AI dinilai memiliki potensi mempercepat proses diagnosis dan meningkatkan akurasi analisis data medis.
Sebagai bagian dari kerja sama, UGM bersama NVIDIA menyiapkan infrastruktur berupa DGX Station, superkomputer AI berbentuk workstation berperforma tinggi. Perangkat ini akan ditempatkan di Fakultas Teknik dan Fakultas MIPA UGM untuk mendukung aktivitas komputasi berbasis AI. “Infrastruktur tersebut menjadi sarana pendukung kolaborasi optimal antara akademisi, industri, dan pemerintah,” ujar Mardhani.
Peneliti AI bidang medis dari FK-KMK UGM, Dian Kesumapramudya Nurputra, mengatakan pemanfaatan AI sangat membantu saat penanganan pandemi Covid-19. Namun, keterbatasan infrastruktur komputasi menjadi kendala dalam pengembangan lebih lanjut. “Kemampuan penggunaan AI dalam dunia medis terbatas karena kami tidak memiliki infrastruktur yang memadai,” ujarnya seperti dilansir tempo.id
Melalui kemitraan dengan NVIDIA dan Indosat, UGM merencanakan pembangunan konektivitas nasional sehingga data dapat diunggah ke server terpusat untuk dianalisis dan dimanfaatkan dalam berbagai pengembangan AI, termasuk aplikasi medis. Indosat berperan dalam penyediaan jaringan dan dukungan konektivitas data berskala besar.
Senior Regional Manager of NVIDIA AI Technology Center Ng Aik Beng mengatakan kolaborasi di bidang kesehatan tidak hanya dilakukan dengan UGM, tetapi juga dengan Monash University di Australia. Ia menekankan pentingnya pelatihan, konsultasi, dan penguatan kapasitas industri agar siap mengadopsi AI secara matang.
Menurut dia, NVIDIA telah mengembangkan berbagai framework AI untuk mendukung implementasi di berbagai sektor. Di bidang kesehatan, NVIDIA mengembangkan MONAI, framework open-source untuk aplikasi AI pada pencitraan medis. Platform ini menyediakan pipeline menyeluruh mulai dari anotasi data, pelatihan model, segmentasi 3D seperti CT scan dan MRI, hingga penerapan dalam sistem rumah sakit. MONAI juga mendukung federated learning untuk menjaga privasi data pasien.
Selain itu, NVIDIA mengembangkan Metropolis, framework berbasis visi komputer untuk aplikasi smart city dan analitik video. Platform ini memungkinkan pemrosesan video berskala besar dengan latensi rendah serta analisis otomatis seperti deteksi objek dan pemantauan aktivitas.
Timothy Liu, NVIDIA Solutions Architect, menambahkan bahwa perusahaan tersebut tidak hanya memproduksi GPU (graphics processing unit), tetapi juga menyediakan perangkat lunak, software development kit, library, ekosistem pengembang, serta program pendidikan untuk mempercepat eksperimen dan produktivitas AI.
NVIDIA dikenal sebagai perusahaan teknologi global yang berfokus pada pengembangan GPU dan komputasi akselerasi, yang kini menjadi tulang punggung berbagai pengembangan AI di dunia. Melalui kolaborasi ini, UGM berharap dapat memperkuat kapasitas riset dan mempercepat adopsi teknologi AI di tingkat nasional. (*)

