Inhil.kabarinvestigasi.co.id. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) akhirnya merilis hasil pemeriksaan laboratorium terkait kasus dugaan keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa puluhan siswa di Tembilahan. Senin (25/08/2025) pagi.
Konferensi pers tersebut juga dihadiri Kepala Yayasan SPPG Kembang, Kasat Reskrim Polres Inhil, perwakilan Kodim 0314/Inhil, Kapolsek Tembilahan Kota, Kadis Kominfopers Inhil, serta insan pers se-Kabupaten Inhil.
Kepala Dinkes Inhil, Rahmi Indrasuri, menegaskan bahwa dari hasil uji sampel makanan dan muntahan korban bersama Balai Karantina Kesehatan, tidak ditemukan bahan kimia berbahaya seperti boraks maupun formalin.
“Namun, dari hasil laboratorium ditemukan adanya bakteri Escherichia Coli (E.Coli) yang menjadi pemicu utama gangguan kesehatan pada anak-anak. Gejala muntah, diare, pusing, dan lemas sangat konsisten dengan infeksi bakteri ini,” ujar Rahmi dalam konferensi pers tanpa menyebut bakteri Escherichia (E.Coli) tipe berapa sehingga terkesan menutupi fakta.
Sumber https://id.wikipedia.org/wiki/Escherichia_coli menuliskan Escherichia coli (biasa disingkat E. coli) adalah salah satu jenis spesies bakteri manusia. Kebanyakan E. Coli tidak berbahaya, tetapi beberapa, seperti E. Coli tipe O157:H7, dapat mengakibatkan keracunan makanan yang serius pada manusia yaitu diare berdarah karena eksotoksin yang dihasilkan bernama verotoksin.[1] Toksin ini bekerja dengan cara menghilangkan satu basa adenin dari unit 28S rRNA, sehingga menghentikan sintesis protein.[1] Sumber bakteri ini contohnya adalah daging yang belum masak.
Sumber https://id.wikipedia.org/wiki/Escherichia_coli memaparkan Penyakit yang biasa ditimbulkan oleh E. coli O157:H7 pada manusia adalah hemorrhagic colitis (HC), hemolytic uremic syndrome (HUS), dan thrombotic thrombocytopenic purpura.[1][2] Haemorrhagic colitis memiliki gejala diare berdarah, kram perut, gagal ginjal, dan menyebabkan kematian mikroflora dalam usus.[2] Jika terserang E. coli ini, kemungkinan terkena penyakit haemorrhagic colitis adalah 38-61% dengan masa penyembuhannya antara 5-10 hari.[2] Bila haemorrhagic colitis dibiarkan, penyakit ini dapat berakibat fatal karena adanya komplikasi yang disebabkan oleh haemolytic uraemic syndrome yang dapat menyebabkan kerusakan sel darah merah, dan gagal ginjal, serta diare dengan feses yang mengeluarkan darah (pendarahan yang dapat berakibat fatal, bahkan menyebabkan kematian, khususnya pada anak-anak).[1][2] Sedangkan, Thrombotic thrombocytopenic purpura dapat menyebabkan thrombocytopenia, anemia, demam, kerusakan pencernaan, dan kerusakan saraf.[2] Penyakit-penyakit ini umumnya disebakan oleh konsumsi daging maupun sayuran yang tidak masak.[1] Daging maupun sayuran yang tidak masak ini merupakan habitat dari E. coli patogen ini.[
“E.Coli kata Kadiskes Inhil Rahmi, bisa saja berasal dari tangan yang tidak bersih. kemungkinan anak-anak masih kurang disiplin mencuci tangan sebelum makan, sehingga kemungkinan bakteri berpindah dari tangan ke makanan yang dikonsumsi,” jelasnya.
Selain itu, Dinkes juga menyoroti minimnya peran sekolah dalam memastikan makanan aman sebelum disajikan.
“Pihak sekolah yang tidak melakukan pengecekan sederhana seperti mencium atau mencicipi makanan sebelum dibagikan ke siswa. Padahal itu bisa menjadi langkah antisipasi. Ini menunjukkan masih kurangnya edukasi dan sosialisasi mengenai pentingnya keamanan pangan di lingkungan sekolah,” tegas Rahmi.
Pernyataan Kadiskes Inhil Bertolak belakang Pernyataan Para Korban
Pernyataan Dinkes ini masih menuai kontroversi. Orang tua murid tetap menuding kualitas makanan MBG tidak layak konsumsi
“Makanannya basi, ayam berbau tidak sedap, mie berlendir, dan toge tidak segar. Anak saya sampai muntah puluhan kali dan bahkan sampai tidak sadarkan diri. Itu bukan sekadar anak kurang cuci tangan,” kata Putri, salah satu wali murid korban, dengan nada kesal.
Hal senada diungkapkan Kayla, siswi SDN 032 Tembilahan, yang mengaku hanya makan mie karena ayam berbau, namun tetap mengalami muntah hebat dan diare, seperti dilansir riauterkini.com.
Kian memicu perdebatan publik. Di satu sisi, hasil laboratorium resmi menyatakan penyebab keracunan adalah bakteri E.Coli yang berasal dari makanan maupun perilaku higienitas anak. Di sisi lain, kesaksian wali murid menilai langsung pada kualitas makanan MBG yang dianggap tidak layak konsumsi.
Ketua Yayasan, Guntur, menyatakan bahwa pihaknya hanya menyediakan tempat dan tidak bertanggung jawab atas pengolahan maupun kualitas makanan yang disajikan.
Awak media yang mencoba meminta izin meninjau dapur tempat makanan diolah, justru terkesan dihalangi oleh Kadis Kesehatan Rahmi dengan alasan Ketua SPPG masih dalam kondisi “shock”.
Tidak hanya itu, masalah kian menuai kejanggalan, ketika penanggung jawab atau kepala dapur Satu Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) MBG Kembang Nurmila bungkam dalam konferensi pers dan wartawan menghubungi berkali-kali melalui selulernya tidak pernah digubris.
Masyarakat kini menunggu langkah nyata pemerintah daerah bersama aparat kepolisian untuk menjamin keamanan pangan dalam program MBG, agar tragedi serupa tidak kembali terulang. (*))

